Bicara Semikonduktor di Kelas Mahasiswa MBA

PROLOG
Mengumpulkan mood menulis memang terkadang menjadi tantangan tersendiri. Bisa dibilang sedikit tricky dan membutuhkan perlakuan khusus. Meski bahannya telah ada di depan mata. Oh iya, di tulisan kali ini aku cuma mau sharing beberapa hal menarik (setidaknya yang tertulis di tiga halaman notebook kecil berukuran 15×10 cm²) tentang sebuah topik Material yang tentunya berhubungan dengan konsep bisnis. Jelas lah, judulnya aja gitu, pasti isinya nggak jauh-jauh dari begituan dong ya. Karena pada dasarnya aku bukan tipikal penulis yang menyukai jenis judul yang clickbait. Oke, yuk kita ulas bersama!

Seperti apa yang mereka lakukan tiap tahunnya, kali ini Global Master of Business Administration (GMBA) milik National Chiao Tung University kembali menghadirkan “GMBA Globalization Seminar & NCTU Global Entrepreneur Campus Based Lecture Series”.

NCTU GMBA Globalization Seminar poster (click to know more about Dr. Konrad Young’s session)

Topiknya beragam, dari mulai Big Data, Intelligent Internet of Things, Cross-Strait Economic Policy, Semiconductor Trends, Public Trade, Social Media-based Business, dan beberapa topik lainnya yang tentunya dapat dikait-kaitkan dengan bidang GMBA. Dan coba tebak, kira-kira mana topik yang akan kita bahas kali ini? Setelah membaca dari awal pasti paham lah ya.

Mari kita mulai dengan profil pengisi seminar kali ini (24/09). Dr. Konrad Young mengawali pendidikan tingginya di National Taiwan University pada 1977, dan mengakhirinya di jenjang PhD pada 1986 di University of California, Berkeley. Lalu memulai perjalanan karirnya lewat bidang semikonduktor, integrated circuits (IC) dan produk-produk aplikasinya. Karir Dr. Young diawali dari Hewlett Packard (USA), Chartered Semiconductor (Singapore), Winbond (Taiwan), Worldwide Semiconductor Manufacturing Company (Taiwan), dan berakhir sebagai Direktur di perusahaan paling berpengaruh bagi pesatnya perkembangan teknologi di Taiwan, apalagi kalau bukan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), Ltd. Kerennya, penugasan terakhir beliau (sebelum pensiun) dari TSMC adalah sebagai salah satu orang kepercayaan TSMC untuk mengurus cabangnya yang berada di USA. Tak heran jika pada akhirnya beliau menetap di sana sampai sekarang.

“Saya sangat familiar dengan Hsinchu, apalagi kampus ini (dan kampus sebelah, NTHU). Ini perjalanan kali ketiga saya ke Taiwan pasca saya bertugas di USA sejak beberapa belas tahun lalu. Suatu kehormatan bisa berbicara di depan mahasiswa kampus NCTU,” ujarnya membuka pembicaraan.

Banyak sekali fakta-fakta unik yang beliau lontarkan lewat slide-slide pengantar yang dibawakan selama ±120 menit di ruang AB103. Salah satunya adalah tentang perkembangan ketertarikan (termasuk di dalamnya penguasaan teknologi) SDM global terhadap teknologi semikonduktor. Secara mencengangkan, based on Google Trend data, lima teratas dari raksasa-raksasa penguasa teknologi ini semuanya berasal dari Asia (data dirangkum dari 2004-2018).

  1. Korea Selatan (Samsung)
  2. Taiwan (TSMC)
  3. Tiongkok (Huawei)
  4. Singapura
  5. Jepang

Wow! Tak heran lah ya, jajaran nama-nama tersebut menempati peringkat top five. Tapi yang mencengangkan, bukan hanya di kancah Asia lho, ini menurut Global Trends. Bisa dibayangkan, betapa terpandangnya “mereka” di bidang teknologi semikonduktor, yang bahkan negara-negara benua Amerika dan Eropa pun takluk.

“Kalian tahu nggak? Sebagai orang berpengalaman di bidang semikonduktor yang telah beberapa kali terjun ke perusahaan-perusahaan tak diperhitungkan (seperti TSMC di awal-awal berdirinya, 1987-1998), hingga akhirnya berhasil membawa atmosfer positif kerjasama menuju perubahan, saya bisa menilai tentang kualitas sebuah produk lho! Faktanya, Huawei sekarang ini setara dengan perusahaan raksasa Amerika, Apple, dalam hal kualitas produk-produk yang dihasilkan,” ujarnya di sela-sela penjelasan tentang peringkat negara paling maju di bidang semikonduktor.

Menurut beliau, faktor yang bisa menjadi tolok ukur dalam bidang keberhasilan penciptaan dan pengembangan teknologi semikonduktor adalah di kompatibilitasnya untuk produk advance application. Contohnya smartphone, di dalam satu produk ini tersemat satu chip processor (produk semikonduktor) yang seharusnya bisa mendukung integrasi dengan perangkat keras lainnya.

“Kalau dibandingkan cuma chip-nya saja, Qualcomm lebih keren dan performanya lebih baik dibanding Apple. Hanya saja, mengapa Apple bisa sebegitu gahar? Karena Qualcomm belum mampu menghasilkan produk-produk pendukung perangkat keras lainnya yang menghasilkan kompatibilitas yang tinggi, sedangkan Apple hampir semuanya membuat sendiri, meski sebagian chip-nya masih ada yang pesan ke TSMC,” celotehnya sambil berkelakar.

Nah, sudah cukup ya untuk pengantarnya. Kali ini aku ingin membagikan tiga prinsip utama yang dipegang TSMC hingga menjadi perusahaan semikonduktor kelas dunia, dan bisa jadi hampir tak terkalahkan dalam hal konsistensi peringkat selama satu dekade ke belakang, lagi-lagi menurut Dr. Young. Nilai-nilai itu dipengaruhi oleh budaya dari The Ancient Chinese yang cukup ampuh untuk diterapkan. Dan entah mengapa, menurut beliau prinsip itu berhasil untuk Taiwan, tetapi tak begitu berjalan lancar untuk teknologi semikonduktor Tiongkok.

TIMING – When (天時)
Di dalam pemahaman nilai ini, perusahaan/calon pengusaha harus bisa memanfaatkan timing yang ada untuk membangun kerajaan bisnisnya.
“Sekali lagi contohnya Tiongkok, di tahun-tahun awal pengembangan teknologi semikonduktor di Taiwan, dan selama saya bekerja di USA, saya sangat jarang menemui mahasiswa asing dari Tiongkok (yang mempelajari bidang semikonduktor). Justru ketika dibandingkan dengan Taiwan, jumlahnya jauh. Karena pada saat itu Taiwan memandang bahwa bisnis semikonduktor belum banyak yang melirik. Di Asia paling hanya Jepang, disusul Korea Selatan yang memang sejak awal tujuannya ingin menumbangkan Jepang,” kata Dr. Young. “Dan di sanalah kuncinya, karena kami tekun berusaha di saat semikonduktor belum begitu booming, alhasil kami berhasil membangun teknologi ini dari fundamental hingga ke advancement-nya dan menjadi pioneer,” imbuh beliau.

LOCALITY – Where (地利)
Masih tersambung dengan pembahasan sebelumnya, di dalam prinsip ini perusahaan/calon pengusaha harus mampu memandang produk apa yang mampu diberdayakan di lingkungan sekitarnya. Tujuannya agar apa? Agar sebuah kerajaan bisnis selain untuk memperkaya diri, juga dapat memberdayakan sumber daya manusia yang ada di negaranya, demi mewujudkan kemajuan tanah airnya.
Yang menurut Dr. Young, “Inilah yang membuat pentingnya kepemilikan teknologi bagi suatu negara. Karena semakin identik teknologi yang dikembangkan oleh suatu negara, maka semakin mudah untuk menggerakkan SDM yang ada di negara tersebut untuk bahu-membahu mewujudkan kemajuan. Kami sadar Taiwan kecil, tapi kami berusaha membuatnya besar lewat teknologi yang dari akar hingga buahnya kami kuasai, dan tidak dimiliki negara lain.”
Tuh kan, blueprint dan pondasi itu memang penting bagi sebuah teknologi yang ingin kita jadikan icon milik bangsa sendiri. Teorinya boleh “menyerap” dari bangsa lain, tapi orisinalitas dan kebaruan pengembangannya harus kita miliki sendiri.

HUMAN RESOURCES – Who (人和)
Sejujurnya di nilai bagian ini, karakter Chinese-nya agak nggak yakin, karena kemarin coret-coret karakternya di notebook sedikit ngasal, jadi pas diriset lagi lewat Google Translate artinya jadi aneh. Tapi mohon dimaklumi ya!
Nah, di nilai inilah negara seharusnya memiliki peran di dalam mendukung sebuah pengembangan teknologi dan pelaku teknologi/calon pengusaha. Mengapa demikian? Karena di nilai ini penerapannya tak jauh-jauh dari peningkatan kualitas pendidikan SDM dan akselerasi dalam memperbanyak kuantitas SDM yang terlatih.
“Intinya segera study abroad! Pada zaman pengembangan semikonduktor, pemerintah melepas generasi-generasi muda Taiwan untuk segera belajar dan mencuri ilmu dari bangsa-bangsa besar dan maju. Dan setelah dirasa cukup waktunya, mereka ditarik kembali ke dalam negeri dan diberikan jaminan kompensasi (gaji/penghidupan) yang di atas standar kelayakan sehingga lebih semangat untuk mengembangkan teknologi semikonduktor dan produk-produk turunannya di dalam negeri. Bekerja di negeri sendiri!” kata Dr. Young menambahkan.
Menurutku untuk nilai ketiga ini Indonesia patut berbangga karena di beberapa tahun ke belakang pemerintah melakukan upaya yang luar biasa dalam menyekolahkan SDM potensialnya ke luar negeri untuk menuntut ilmu. Salah satunya melalui pemberian beasiswa elpedepe dan sejenisnya, yang kita tunggu saja hasil dan tindak lanjutnya nanti, beberapa tahun lagi. Akankah sama dengan langkah pemerintah Taiwan? Hehehe.

Jadi, cuma tiga nilai itu yang dipegang TSMC sampai bisa semenakjubkan sekarang?

Iya sih, cuma itu. Tapi jelas sekali tersirat dari ulasan di atas bahwa pemerintah wajib ambil bagian dalam pengembangan usaha, teknologi, dan juga pengembangan advancement dari sebuah produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan yang dinaunginya. Karena jika suatu negara ingin maju, perusahaan dalam negeri perlu dibangun dengan perhatian lebih. Dengan aturan main, harus fokus dengan pemahaman tentang fundamental teknologi, dan penyusunan blueprint otentik milik sendiri. Dan lagi, “keruwetan birokrasi untuk pelaksana usaha WAJIB dipotong, dikurangi, dipersingkat!” imbuh Dr. Young di tengah-tengah penjelasannya.

Setelah hal-hal retoris dan sistemik tadi, selain itu yang harus diperhatikan juga penanaman modal real. Ini juga penting, karena tanpa ada modal jelas sebuah teknologi akan mangkrak dan tak akan berkembang. Terutama modal alat-alat (equipment), seperti kalau di bidang riset dan teknologi ya otomatis alat pengujian, advance material characterizations, dan lain sebagainya. Memang sih, mahal. Tapi, bukankah dengan modal besar di awal berupa equipment (yang jelas akan mengalami depresiasi pada akhirnya), akan terbayar lunas jika teknologinya berkembang pesat dan menjadi motor pendorong utama bagi kemajuan bangsa?

Terakhir, sebelum Dr. Konrad Young menutup pemaparannya malam itu, beliau juga menekankan tentang beberapa skill yang harus dimiliki oleh suatu perusahaan jika ingin berkembang jauh lebih maju, apalagi di era Industry 4.0

  1. Kemampuan SDM perusahaan secara umum
    Di sini ada empat jenis skill yang harus dikuasai oleh SDM di perusahaan “yang ingin maju”:
    a) Technical Depth and Width Skill: kemampuan SDM harus sesuai dengan bidang yang ditangani. Kemampuan tersebut wajib dikuasai secara mendalam dan tak menutup kemungkinan meluas, karena zaman sekarang tak ada yang tak terintegrasi. Contoh: teknik material saja banyak mengobok-obok ilmu elektronika, sipil, dan bahkan IT.
    b) Strategic Thinking and Creativity Skill: SDM suatu perusahaan harus mampu memikirkan strategi untuk meningkatkan kualitas produk, yang nantinya secara langsung akan berpengaruh pada kuantitas income perusahaan dan nilai valuasinya.
    c) Management Skill: SDM yang perusahaannya ingin maju haruslah memiliki kemampuan untuk mengatur, baik mengatur pekerjaannya sendiri maupun mengatur SDM lainnya. Karena tak mungkin selamanya petinggi di suatu perusahaan akan menjabat terus, akan ada saatnya digantikan oleh SDM yang lebih fresh.
    d) Methodology and System Capability Skill: di sini maksudnya SDM harus mau dan mampu mempelajari serta merunut segala seluk beluk perusahaan dari mulai fundamental hingga ke prospek masa depan. Karena hanya dengan pengetahuan dan pemahaman yang mumpuni tentang sistem dan metodologi seperti apa yang telah dilakukan oleh perusahaan, SDM akan bisa memikirkan dan memodifikasi sistem pengembangan seperti apa yang cocok untuk membawa perusahaan menuju ke arah yang lebih maju.
  2. Kemampuan manajemen perusahaan
    Di bagian ini tak begitu banyak pembagiannya, hanya saja di nomor dua ini harus spesifik dikuasai oleh SDM pengambil kebijakan dalam perusahaan. Di mana pada akhirnya para pengambil kebijakan pulalah yang akan menentukan arah gerak perusahaan di masa depan. Intinya, SDM pengambil kebijakan bisa membuat beberapa opsi perencanaan. Menurut Dr. Young, “di dalam sebuah perusahaan ada prosentase-prosentase SDM yang bisa diklasifikasikan menjadi: single-discipline employee/SDE (para staf pekerja spesifik sesuai jobdesk), multi-discipline employee/MDE (para supervisor dan penanggung jawab program), dan integration manager/IM (para manajer dan pembuat kebijakan dalam lingkup regional perusahaan). Biasanya perusahaan besar akan mempertimbangkan untuk mengatur jumlah SDE ±50%, MDE harus lebih dari 25%, dan IM cukup dengan ≤20% dari total jumlah populasi pekerja. Apalagi setelah ini IM dapat digantikan oleh peran teknologi canggih dan Artificial Intelligent.”

Seru sekali ya? Jadi tertarik untuk menyusup ke dalam markas para mahasiswa MBA di lain waktu, terutama jika topiknya bersinggungan langsung dengan bidang material semacam ini, hehehe.

EPILOG
Oh iya, terakhir pesan dari Dr. Konrad Young sepertinya tak kalah oke nih untuk dikutip, “kampus/perguruan tinggi wajib menjadi pemantik utama dalam pengembangan teknologi dan industri. Apalagi demi dinamisasi perubahan atmosfer industri menuju kemajuan. Tentunya dengan full support dari regulasi pemerintah!”