HERO IS ME: November 10th Day

Prolog
Kali ini coretannya spesial di tanggal yang spesial pula. Sepuluh November, sebuah penggalan frasa simbolik penting tentang Hari Pahlawan yang bagi sebagian besar, atau bahkan seluruh bangsa Indonesia adalah sakral, selain 17 Agustus. Apalagi bagiku, bukan karena ingin sok pahlawan atau sekedar mau panjat sosial dengan teknik pendekatan moment ikonik dengan suatu kepentingan, hanya saja memang frasa itu cukup berbekas di kehidupanku: tentang pahlawan.

Aku lahir dari pasangan orang tua yang mengerti betul makna dari sebuah perjuangan seorang pahlawan. Bagaimana tidak, bahkan sampai makam dari salah satu kakekku saja diberi penanda tiang baja berornamen bambu dan bendera merah putih, yang sebenarnya oleh pemerintah setempat (Lumajang, Jawa Timur) ada rencana dimasukkan ke dalam pemakaman khusus para TNI yang dikategorikan sebagai pahlawan. Akan tetapi karena wasiat dan juga pertimbangan lainnya, seluruh keluarga besar dari papa menghendaki tak usah sampai demikian. Ya, keluarga papaku termasuk ke dalam keluarga TNI pejuang pra dan pasca kemerdekaan, bawaan kakekku.

Lain lagi dengan kakekku yang satunya, dari keluarga mama, yang juga kental dengan disiplin korsa militer ala POLRI. Kakek yang selain dipercaya pemerintah RI sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang keamanan rakyat sebagai anggota POLRI, beliau juga dipercaya oleh rakyat sebagai kepala desa/kelurahan di lingkungannya (pada jamannya). Bahkan tak tanggung-tanggung, beliau dipercaya sebagai kepala desa selama 32 tahun. Wow! Bagiku sih amazing, di mana kala itu pemilihan kepala desa tidak se’kotor’ saat ini (yang sudah menjadi rahasia umum) dengan banyaknya praktik politik uang dan KKN. Asal tahu saja, kakekku sama sekali bukan orang yang tergila-gila dengan kemilau anggapan “rumah mewah dan megah”. Karena toh, sampai pensiun dari kepolisian hingga purna tugas sebagai pak lurah, terbukti kediamannya hanya dihiasi oleh pembatas dengan bilik-bilik anyaman bambu dan papan kayu sederhana, meski ukurannya relatif lebar. Tapi jangan salah, namanya orang desa, yang namanya anak, cucu, dan sanak saudara pak lurah adalah orang tersohor di penjuru kelurahan, kecamatan, hingga seantero kabupaten. Bahkan sampai usia SMA pun, masih banyak orang-orang lama* yang mengenalku sebagai cucu pak lurah Pohbogo, Balen (Bojonegoro, Jawa Timur).
*orang-orang lama: yang sempat kenal kakekku dari hasil penelusuran silsilah

Kini, penelusuranku bermuara pada orang terdekatku, yang meski sekarang terjebak dalam kondisi Long Distance Relationship (LDR) yang tak tahu entah kapan akan berakhir, orang tuaku. Papaku adalah seorang guru Sekolah Menengah Pertama di sebuah “institusi pinggiran”, bukan sekolah favorit, meski peringkat kualitasnya bisa dibilang selalu masuk di jajaran 5 besar kabupaten. Mendapat penempatan mengajar di sana sejak tahun 1980an, sampai akhirnya bertemu mama dan menikah di 19 September 1988, dan dikaruniai kakakku di bulan Agustus 1989. Selama ini (lebih dari 30 tahun), papa selalu menjadi orang yang tersemat dalam memori spesial bagi sebagian besar siswa-siswinya. Terbukti, bertahun-tahun selalu menyabet gelar “guru terdisiplin” atau “guru terfavorit”, yang jika dikumpulkan jumlah plakat dan piagamnya mungkin sudah bisa digunakan untuk membuat dua buah pilar penyangga rumah. Sayangnya, barang-barang simbolis itu sudah banyak yang raib karena satu dan lain hal. Belum lagi kalau lebaran, rumahku bisa dibilang hampir selalu ramai tiap seminggu atau bahkan dua minggu pertama bulan Syawal. Karena siswa-siswi (baik aktif maupun alumni) papa memang selalu mengutamakan budaya sowan ke rumah guru tiap Idul Fitri. Dulu sih waktu kecil aku cukup risih (maklum terlahir recharge dengan kesendirian dan ‘mudah merasa lelah’ dengan kondisi keramaian, a.k.a. introvert) akibat banyak tamu di bulan Syawal yang hampir tiap hari selalu ada. Eh, begitu beranjak dewasa aku baru paham, bahwa ternyata anggapan bahwa guru adalah pahlawan bagi siswa-siswinya adalah nyata, dan aku terlahir dari seseorang dengan peran sedemikian besarnya.

Lalu, ada mama. Seseorang yang secara ikonik tak mungkin tak dianggap pahlawan oleh anaknya. Karena standar kepahlawanan terbesar bagi setiap manusia sejak zaman setelah Adam-Hawa turun ke bumi dan ditugaskan sebagai khalifah, seyogyanya harus disematkan pada sosok satu ini: ibu/bunda/mama/apapun yang kalian biasa panggil. Sembilan bulan mengandung, dua tahun menyusui, dan mungkin bisa dibilang sekitar 18 tahun merawatmu secara real action (hingga usia 20an), sebelum akhirnya kamu merantau untuk meniti masa depan.
Mamaku spesial, karena bagiku beliau adalah sosok pantang menyerah yang paling mampu bertahan di kondisi apapun, apalagi demi anak-anaknya. Pernah suatu kali aku berada dalam kondisi “hampir mati”, masih dalam kandungan entah berumur berapa bulan. Ada sebuah tragedi pagi buta di mana papa, mama, dan kakakku harus menyeberangi sebuah jembatan khusus rel kereta api demi memotong jalur ke tempat yang dituju. Karena rumah kontrakan kami kala itu dekat dengan rel kereta api, tentunya mereka sudah hapal kapan jadwal kapan kereta akan melintas setiap paginya, dan kapan jalur rel kereta api aman dilalui. Tapi sepertinya tak akan pernah ada cerita dan aksi seheroik ini jika anomali tak terjadi. Tiba-tiba pagi itu ada sebuah kereta yang muncul dari kejauhan. “Tuuuuuuut….” kira-kira begitu visualisasi klakson keretanya. Shock? Jelas, bahkan mama tiba-tiba mengalami kondisi blank, dan tak mampu bergerak untuk sesaat. Sekitar ±2-3 meter lagi jembatan akan berakhir menuju jalur aman, dengan posisi ada dua lubang sekitar 1-1.5 meter menganga menuju sungai di bawah jembatan.
“Ayo ma! percaya aja, inshaAllah bisa sampai sebelum kereta lewat!”
“Nggak bisa pa, aku lemes, nggak bisa loncat”
“Kalau kita mati di sini, dedek gimana? Kakak gimana? Ayo!”
Menurut mama, yang ada di pikiran beliau saat itu adalah seorang bayi laki-laki yang ada di kandungannya. Jika perjuangan berhenti di sana, kesempatan untuk menjadi seorang ibu untuk kedua kalinya gagal dan mungkin hembusan nafasnya berhenti di sana. Alhasil, dari sepersekian detik memikirkan cara untuk keluar dari situasi itu, mereka bertiga melompat dalam sekali hentakan. Mungkin kalau tipikal film-film sekarang akan ada scene gerak super lambat yang mendramatisir para penontonnya. Dan pada akhirnya kaki mereka menyentuh tumpukan batu di sisi rel kereta tepat beberapa detik sebelum angin laju bawaan kereta menampar wajah mereka. Syukur Alhamdulillah, kami berempat selamat.

Sebegitu deras dan dekatnya darah para pahlawan-pahlawan di atas mengalir dalam diriku, yang seharusnya lebih bisa kumaknai dengan kemanfaatan-kemanfaatan untuk orang-orang di sekitarku. Agar segala kisah heroik dan usaha kepahlawanan mereka tak pernah pudar dan hilang, hanya mungkin berganti subyeknya dengan diriku (heroisme jariyah).

Serupa dengan pemaknaan frasa Sepuluh November secara nasional di Indonesia, yang di 73 tahun yang lalu merupakan manifestasi dari semangat perjuangan arek-arek Surabaya, yang diikuti dengan gerakan terpadu dan terpusat dari seluruh rakyat Jawa Timur dan bahkan Indonesia untuk memukul mundur para penjajah, serta mencabut akar kolonialisme barat di Indonesia. Lalu, untuk mendapatkan pendekatan yang lebih nyata dari makna kata “pahlawan” mengapa tidak kita coba memaknainya dengan sudut pandang yang lain? Yang lebih dekat dengan kita, lebih nyata kita rasakan, dan mungkin lebih anti-mainstream. Semata hanya untuk lebih mengingatkan, bahwa hari pahlawan ini penting untuk dimaknai dengan sebuah kontemplasi mendalam, bukan hanya sekedar perayaan tahunan yang bisa saja pudar ditelan jaman jika tak lagi manarik untuk diteruskan.

Dan selama saripati tanah air Indonesia telah ada di dalam diriku, kemanfaatan dari perjuangan para pahlawan terdahulu melekat erat dalam hidupku, serta ingatan-ingatan heroik masa lalu tentang orang-orang terdekatku mampu menjadi lecutan diri ini untuk terus maju, maka di titik itu pulalah aku bisa menggolongkan diriku sebagai seorang pahlawan.
Entah bagi diriku sendiri, bagi orang-orang terdekatku, atau mungkin nanti bagi bangsa dan negaraku. Karena jika kita telah terlalu lama menjadi obyek sosok kepahlawanan masa lalu, terlalu picik jika kita tak memiliki keinginan untuk membalas jasa-jasa mereka semua dalam bentuk tindakan nyata demi memajukan Indonesia.

Coba tebar manfaat! (Foto diambil oleh Vincent Tjeng (Telin Taiwan), sosialisasi Panwaslu LN dan PPLN Taipei di Pulau Penghu, Taiwan)

Here it is, HERO IS ME!!!

Epilog
Jadi, siapa pahlawanmu?
Sudah siapkah kamu membalas jasa mereka dengan tindakan-tindakan kepahlawanan, sebagai pemegang tongkat estafet heroisme selanjutnya?
Tak perlu dijawab, lakukanlah secara nyata, segera!