Awas! Jangan Terjebak Klasifikasi Generasi.

PROLOG
Manusia-manusia dalam satu generasi (yang ditentukan dalam rentang tahun dan masa tertentu) akan memiliki kemiripan satu sama lain.” – Mannheim, 1927 
Lalu, bagaimana dengan kelompok manusia di generasi lain?
Ya sesuai dengan kemiripan “golongan” generasi mereka sendiri, untuk itulah penggolongan semacam ini ada…

Mannheim berhasil membuat sebuah ulasan unik tentang manusia. Terutama yang berkaitan dengan hubungan antargenerasi yang dihadapi, dari sudut pandang The Problem of Generation, sebuah esai yang di-republish oleh Paul Kecskemeti di 1972 (tautan bacaan lengkapnya ada di prolog). Ulasan esai ini pada akhirnya menjadi pijakan bagi sebagian sosiolog untuk membagi-bagi generasi berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Yang pada akhirnya secara garis besar pembagian tersebut berujung pada istilah-istilah unik bagi sekumpulan manusia-manusia dalam rentang waktu tertentu, contohnya sebagai berikut:

  1. The Lost Generation – The Generation of 1914 (1890-1915)
  2. The Interbellum Generation (1901-1913)
  3. The Greatest Generation (1910-1924)
  4. The Silent Generation (1925-1945)
  5. Baby Boomer Generation (1946-1964)
  6. Generation X – Baby Bust (1965-1979)
  7. Xennials (1975-1985)
  8. Generation Y – The Millennials – Gen Next (1980-1994)
  9. iGen – Gen Z (1995-2012)
  10. Gen Alpha (2013-now)

(Based on Western Cultural Generation, tahun bergaris bawah memiliki time merging)

Tapi meskipun daftar itu adalah secara garis besar, tetap saja tak ada kesepakatan satu sama lain antarpeneliti, karena masing-masing peneliti memiliki acuannya masing-masing. Seperti halnya acuan geografis benua, kondisi politik, dan kondisi-kondisi yang dapat membuat perbedaan-perbedaan lainnya. Sehingga akhirnya ada simplifikasi lain yang mereduksi beberapa generasi yang memiliki time merging menjadi satu kesatuan generasi. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh redaksi Tirto dalam salah satu artikel mereka:

  1. Generasi Era Depresi (1920-1938)
  2. Generasi Perang Dunia II (1939-1945)
  3. Generasi Pasca-PD II (1946-dst)
  4. Generasi Baby Boomer I
  5. Generasi Baby Boomer II
  6. Generasi X (1965-1979)
  7. Generasi Y – Milenial (1980-1994)
  8. Generasi Z (1995-2012)

(Berdasarkan artikel Tirto tentang Gen Z, di mana untuk tahunnya penulis coba telusuri sendiri dan menyematkan berdasarkan cocoklogi dan mix and match, karena pada artikel Tirto di tautan tersebut tidak memberikan keterangan rentang tahunnya)

Ini salah satu contoh infografis yang penulis comot dari Tirto untuk mempermudah pemahaman pembaca

Nah, banyak banget kan klasifikasinya?
Itulah mengapa ilmu (baik sains maupun sosial) itu sifatnya nisbi, karena ketika satu variabel, time frame, subyektivitas pengamat, dan faktor-faktor lainnya diubah atau ditambah, akan ada hasil-hasil yang berbeda dalam paparannya.

Oke, oke, setelah kita tahu generasi-generasi tersebut beserta rentang tahunnya lalu apa?

Nah, ini alur pertanyaan yang bagus. Belakangan ini seringkali kita temui berbagai macam artikel yang menerangkan dan mendeskripsikan bagaimana kondisi-kondisi dan tipikal para generasi. Dari yang obyektif, based on paper dan penelitian, sampai pendapat-pendapat subyektif para pakar dadakan yang ingin eksis dengan argumentasi seadanya (dan mungkin pembuat tulisan ini juga salah satunya, blame meI always open with it ^_^). Lalu ada juga yang menghubungkan tingkah polah para generasi dengan tindak-tanduk mereka di masa depan, jenis pekerjaan apa yang cocok dan menunjang, hingga nasib mereka ke depannya ditinjau dari segi kepemilikan rumah-ketersediaan uang pensiun-dan banyak lagi. Dan percaya atau tidak artikel-artikel semacam itulah yang membuat kenyataan ramalan-ramalan dan forecast tersebut menjadi nyata.

Ah masa’ sih?

Logika ini persis seperti kepercayaan manusia terhadap ramalan bintang (horoskop/astrologi). Di mana manusia lebih cenderung untuk memercayai apa yang menjadi label di dalam dirinya. Contoh: Orang yang lahir di bulan Maret-April, oh bisa jadi bintangnya Pisces. Then, si pemilik bulan lahir itu membaca kelanjutan ramalan tentang finansial. Suatu ketika di sana tertulis: “minggu ini kamu akan mengidap kanker (kantong kering)”. Bagi orang-orang pemilik bintang Pisces (dan terlalu mempercayainya) akan gelisah dan mencoba menghubung-hubungkan kehilangan dompetnya dua hari setelah mereka membaca artikel horoskop tersebut terhadap isi horoskop. Mereka terburu-buru depresi dengan kebingungan yang ia timbulkan sendiri karena terbawa suasana ramalan bintang. Yang meskipun pada akhirnya di akhir pekan berikutnya si dompet akhirnya ketemu di dalam tumpukan baju, yang belum dicuci sejak sebulan lalu, karena kecerobohannya sendiri. Ah, tapi dasar si pemercaya ramalan ini sudah terlanjur membaca ramalan di pekan berikutnya (sejak pekan lalu) yang mengatakan: “minggu ini kamu akan menerima rejeki nomplok”. Alhasil penemuan dompet akibat kecerobohannya sendiri pun dianggap rejeki nomplok dan visualisasi dari BENARnya ramalan/artikel yang ia baca.

Meski itu tadi hanya visualisasi simpel terhadap kondisi manusia yang lebih cenderung untuk memercayai apa yang menjadi label di dalam dirinya. Begitu pula tentang tulisan yang banyak sekali bertebaran tentang para generasi ini.

Kalau tadi contohnya adalah tentang horoskop, kali ini penulis mencoba mencari visualisasi lain yang related to Generation X-Y-Z. Kali ini berdasarkan cocoklogi yang diulas oleh para jurnalis situs Fortune, di mana para generasi Milenial disamakan dengan golongan tua Silent Generation (Generasi era Depresi). Mengapa demikian? Karena dua generasi ini memiliki kondisi yang sama saat pertumbuhan mereka. Yaitu tumbuh di tengah-tengah era kejatuhan, meski secara perlahan-lahan menjadi saksi pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Sama seperti kakek buyutnya dulu, para generasi Milenial ini berpengalaman dalam menghadapi krisis finansial sejak kecil hingga beranjak dewasa. Hal itu yang menyebabkan generasi Milenial lebih banyak berpikir bahwa menjalani kehidupan untuk mengamankan kondisi finansial dan menjaga alur pendapatan-pengeluaran agar tak terlalu fluktuatif adalah suatu kebutuhan utama. Mereka (atau juga penulis, yang notabene juga anak Milenial) lebih suka melakukan penghematan lebih dari perhitungan “nabung ideal”. Meski bedanya dengan Silent Generation adalah: generasi Milenial lebih mengutamakan tingkatan edukasi mereka. Sehingga dalam sejarah, generasi Milenial menjadi kaum paling terdidik (setidaknya di Amerika).

Bagi para manusia yang lebih cenderung untuk memercayai apa yang menjadi label di dalam dirinya, secara langsung berpikir dan melakukan cocoklogi terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Sebut saja generasi Milenial Indonesia, mereka (atau kita) langsung meletakkan landasan pikir pada krisis moneter ’98 yang juga menjadi awalan tumbuhnya Reformasi di Indonesia. Ya, itu bisa jadi masuk ke dalam klasifikasi era kejatuhan. Hingga akhirnya generasi Milenial Indonesia berangan-angan lagi: saat masa kecil lebih cenderung berusaha menerima keadaan perekonomian orang tua (tak banyak menuntut) dan lebih banyak menabung dari uang jajan ketika menginginkan sesuatu. Berbeda dengan ‘generasi lain’ yang kebanyakan ‘berekspektasi lebih’ terhadap kehidupan enak yang serba instan.

Tuh kan, lewat visualisasi barusan saja, penulis sudah sedikit terpengaruh dengan artikel ulasan para jurnalis Fortune. Dan sebagai tambahan (dalam kalimat bercetak tebal), penulis juga akhirnya sedikit mendiskreditkan generasi lain sesuai ulasan para jurnalis HuffingtonPostUSAToday, juga Time. Wow, sudah tahu kan sebegitu kuatnya pesan-pesan yang tersampaikan lewat tulisan yang implicitly persuasive semacam itu? Terutama yang berusaha memanfaatkan kelemahan manusia yang lebih cenderung untuk memercayai apa yang menjadi label di dalam dirinya.

Jadi, sekarang terserah kita. Ingin terus disetir dengan ramalan-ramalan dan forecasting media tentang apa yang harus dan akan kita lakukan, baik yang mengambil keuntungan dari perbedaan generasi, golongan darah, horoskop, suku, ras, keyakinan, dan penggolongan-penggolongan lainnya, atau

1) terus belajar dan bereksperimen dengan hal-hal yang telah tersedia di sekitar kita;
2) mengolahnya menjadi informasi berharga dan berguna untuk;
3) menentukan langkah-langkah terbaik apa yang akan kita lakukan selanjutnya, bukan berdasarkan labelling generasi atau penggolongan-penggolongan semu lainnya yang pada akhirnya;
4) membimbing kita semua pada kesuksesan menurut pemahaman dan cara otentik kita sendiri dan;
5) menemukan betapa pentingnya “mengunyah permen karet dan meniupnya menjadi gelembung balon secara mandiri, dibandingkan dengan meniup gelembung balon permen karet hasil kunyahan orang lain” sehingga;
6) kita bisa memberikan wawasan berharga kepada generasi selanjutnya: bahwa menjadi otentik, adaptif, dan tak terpengaruh klasifikasi semu tentang generasi adalah kunci sukses yang sebenarnya!!!

EPILOG
Semua bisa sukses, semua bisa menjadi apa yang dia mau. Asal mereka memiliki kemauan dan selalu mengasah kemampuan. Keep authentic, adaptive, and forget about labelling!!!

_________________________________
Disclaimer: sumber-sumber dari tulisan opini ini bisa ditemukan di tautan-tautan yang bertebaran di dalamnya. Dan untuk kebutuhan pemahaman, silakan gali lebih dalam sumber-sumber lain yang menurut kalian layak dijadikan bahan pertimbangan.