Mengobati Kecewa dengan Berbagi Bahagia

Ini pertama kalinya aku menulis panjang lebar di sebuah platform web. Bahasanya mungkin tak semenarik dan sepanjang lebar ekspektasi dari para pembaca. Tapi setidaknya semoga tulisanku kali ini bisa mendapatkan respon positif dari para wise-reader #KotakAjaib web page.

Kalian tentu pernah beberapa kali melihat posting dari warganet di jagat twitter maupun Line, ada seorang (atau beberapa orang) pegawai toko di sebuah Mall/swalayan yang menangis haru saat melihat puluhan anak-anak yatim yang tengah diantar memilih-milih barang belanjaan berupa baju lebaran. Aku kurang tahu pasti dengan penyelenggaranya, yang pasti posting itu sempat viral beberapa hari lalu.

“Dek, aku sempat kagum sama acara-acara yang ngajakin adik-adik yatim untuk belanja gitu. Dan kamu tahu seberapa bangganya aku waktu kamu tahu aku ikut program serupa sebagai pendamping? Aku ga bisa ga makin cinta sama kamu, dek,” kata masku (Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha) saat video call semalam.

Alhasil aku diminta nulis draft ini, yang janjinya mau dikurasi sama dia sebagai admin sekaligus editor in chief dari web page ini. Nggak tahu deh mau di-up kapan.

Singkat cerita, keputusanku untuk ikut program ini dimulai di hari Jumat (31 Mei 2019). Kenapa Jumat? Karena seperti yg aku bilang di voice call sama mas pada malam sebelumnya kalo feeling-ku hasil scholarship bakal keluar di hari Jumat itu. Dan ternyata benar, memang hasilnya diumumkan hari itu.

Terus, diterima dong ya?

Eits, tunggu dulu. Harapan besarku sih gitu, karena beasiswa dari Taiwan Scholarship Ministry of Education (MOE) itu terhitung gede. Itung-itung bisa lah nutup biaya hidup selama di studi Master di Taiwan, barengan mas yang juga lagi PhD masuk tahun keduanya. Dan dengan diterima MOE, bisa jadi kerjaku di lab nggak terlalu bergantung sama pressure dari Professor gitu, jadi kalo mau agak bandel-bandel dikit ga beban banget. Hehehe, apalagi nanti kan rencananya aku berangkat ke Taiwan di akhir Agustus 2019 itu pasca dinikahi sama mas. Yang otomatis kebutuhan pasca pernikahan kan nggak bisa dibilang kecil. Tapi takdir dan jalur rejeki dari Allah SWT ternyata berkata lain. Aku nggak lolos seleksi sebagai MOE scholars.

JUMAT: MASIH OGAH-OGAHAN SAMPAI TENGAH MALEM

“Rasanya down banget mas, karena aku segitu ngarep dan yakin bakal keterima, cuma ya mungkin emang MOE bukan rejekiku. Akhirnya, karena aku down banget dan butuh pelampiasan tempat curhat, aku langsung ngasih tau kamu via WA, dan beberapa temen deketku, Cika sama Zulfa,” kataku ke mas.

Nah di moment ini Cika cukup tanggap untuk mengalihkan perhatianku biar nggak terlalu sedih lagi. Dia sempat ngajakin aku sekitar jam 3 sore (masih Jumat). Dia bilang, “kak, mau cari hiburan gak?”

Terus kurespon setengah hati gitu, meski akhirnya dia tetep cerita kalo dia punya temen di PKPU Human Initiative yg ngajakin dia untuk jadi salah satu volunteer di acara Belanja Bareng Yatim (BBY).

Eh, program apaan sih itu?

Itu salah satu dari rangkaian program BUKBER dari organisasi yang berkantor pusat di Jl. Anggrek No.97, Curug, Kec. Cimanggis, Kota Depok (Jawa Barat 16453) itu. Coba cek video berikut deh!

Video dari YouTube channel PKPU Human Initiative

Masih ogah-ogahan, aku tanya kapan dan dimana acaranya. Cika bilang kalo acaranya Hari Sabtu (1 Juni 2019) jam 8 pagi di Transmart Cilandak.

Giling, pagi bener?” kataku dalam hati.

Terus aku langsung nolak saat itu juga. Aku bilang nggak bisa karena emang itu pagi banget, sedangkan itu weekend. Yang sebenarnya aku bisa manfaatin buat bangun siang. Atau lebih tepatnya menghilangkan rasa sakit hatiku pakai tidur. Karena mas sering bilang: sleep will heal (almost) everything. Tapi entah mengapa, rasa sedih dan kecewaku nggak ilang-ilang sampe malem. Kira-kira sekitar jam 20.30 malem aku, entah malaikat mana yang nuntun, atau emang keinginanku sendiri udah kelewat impulsif, tanpa pikir panjang aku chat Cika.

“Cik, aku mau deh ikutan acara bareng PKPU besok!” kataku. Dengan harapan, purely, bikin aku lupa dan mengikhlaskan hasil pengumuman beasiswa MOE tadi pagi (ini masih Jumat ya). Nah, nggak ada balesan dong sampai aku voice call sama mas yang lagi mulai mindahin barang dan beberes kontrakan baru di kisaran tengah malam itu. Akhirnya, aku baru dapat jawaban pas lagi sahur, kalo aku bisa ikutan BBY langsung aja di hari Sabtunya.

SABTU: BERANGKAT PAGI NAIK KERETA

Terus, pas hari Sabtunya, aku berangkat sekitar jam 06.45-an naik kereta, kombinasi dengan ojek online. Sempet chat sama Cika, ternyata dia belum jalan karena bangun kesiangan. Yaudah, akhirnya karena aku males juga buat nunggu lebih lama. Aku putuskan jalan duluan. Toh, Cika juga bawa motor sendiri.

But, to be honest, manajemen dari PKPU untuk meng-handle agenda ini belum sepenuhnya perfect. Soalnya koordinasi untuk penjaringan volunteer, terus juga mengoordinasikan volunteer yang sudah bersedia pun kurang smooth gitu, dan serba mendadak. Aku bahkan baru tahu kalau dimasukin ke grup koordinasi para volunteer jam setengah dua belas malam di hari Jumat. Then, pas sampai venue tuh nggak keliatan mana yang panitia dari PKPU, mana yang pengunjung Transmart Cilandak. Karena nggak ada penanda atau seragam khusus gitu dari PKPU. Jadilah para volunteer kebingungan sendiri. Semua briefing dilakukan serba mendadak, bahkan sampai acara selesai dan pulang pun, yaudah gitu aja, volunteer pada pulang sendiri tanpa ada ketemu dulu, pengarahan akhir atau pembubaran volunteer hehehe.

Tapi terlepas dari kekurangan teknis lapangannya dari panitia, aku sebagai volunteer merasa terhibur banget pas lihat ekspresi senang dari adik-adik yang jadi pesertanya. Setelah acara dibuka oleh MC, terus ada pembagian kelompok gitu buat tau mana-mana aja adik-adiknya yg akan kita dampingi. Aku kebagian 10 anak: 2 remaja, 5 anak kecil laki-laki dan 3 anak kecil perempuan. Nah, setelah dibagi kelompok dan rompi untuk adik-adiknya, kita turun ke bawah untuk mulai belanja. Jujur, di sini aku mulai deg-degan sih, karena ini pengalaman pertama aku sebagai volunteer di acara semacam ini, dan lagi, pesertanya ada 136 orang.

Wow! Banyak juga ya?

Bisa dibayangin dong, se-hectic apa, dan seberapa mungkin kamu kehilangan “anak-anak”mu? Hahahahaha. Untuk mengatasi kekhawatiran itu, aku punya ide untuk membagi sesi belanja per lorong. Jadi kita semua berhenti di satu lorong dulu, menyelesaikan belanja kebutuhan di lorong itu, terus baru pindah ke lorong lain, biar mereka semua tetap jadi satu gitu. Awal-awalnya berjalan baik, tapi ujung-ujungnya tetep aja buyar hahahahaha. Aku pikir yang bakal sering ilang itu yg anak cowoknya, ternyataaaaa malah mereka penurut banget, huhuhu. Aku terharu sekali. Justru yang 2 anak ceweknya suka ngilang-ngilang dan pake ada adegan nangis-nangis segala.

Salah satu moment panik itu pas mereka mulai nanya, “kak aku mau beli shampo dan bedak itu dimana ya?”

Doeeeng, aku kan juga baru pertama kali ke mall itu ya, nggak tahu juga tempat-tempatnya dimana. Alhasil, jadilah kita muter-muter sampai ketemu barang yang dicari, hahaha. Di sana malah aku yang ngerasa nggak enak dan sering minta maaf, “maaf ya dek, kaka juga baru pertama kali kesini. Kita cari bareng-bareng ya…”

Terus ada juga nih, yang kita udah nemu barang yang dicari muter-muter tadi: shampo dan bedak. Terus udah aku tanya dong, “Udah semua belum? Atau ada lagi yang butuh dicari di lorong ini?” Mereka jawab “nggak ada kak!”

Eeeeh, udah jauh pindah dari lorong itu, tiba-tiba ada yang deketin aku lagi, “kak Tira, aku mau beli shampo.”

Wahahahaha, subhanallah. Akhirnya aku tanya shampo apa yang dicari, biar aku aja yang lari-larian balik ke lorong itu nggak apa-apa deh asal mereka nggak ilang. Kusuruh mereka nunggu di tempat itu dulu, sembari aku balik ke lorong shampo. Terus ada juga yang sama sekali clueless dan bingung mau beli apa. Nah, pendampingnya makin bingung dong ya, hahaha. Tapi semuanya happy ketika mereka berhasil nemuin barang yg mereka mau.

Saking excited-nya, aku selalu ngingetin ke mereka “nggak apa-apa sayang, ambil aja dulu barangnya. Nanti pas di kasir, kamu keluarin barang yg kamu mau di awal dulu. Terus, biar nanti disesuaikan sama budget-nya”. Dan mereka cuma senyum-senyum aja dengar penjelasan macam itu. Walaaaaah, meleleh hatiku. Biar deh, leher kering kehausan gara-gara banyak ngomong juga ga masalah, yang penting aku bisa bantuin mereka catat bahan yang mereka beli di kasir, terus bantuin mereka packing barangnya.

Ini salah satu post di instagram-nya mas yang bikin aku tambah meleleh lagi dong.

Intinya aku bersyukur banget, aku ngerasain banyak pengalaman berharga di Ramadhan kali ini, tahun terakhir sebelum aku resmi jadi istri mas (aamiiiiin). Banyak banget kejadian up and down yang aku rasain di Ramadhan tahun ini. Dan dari sana aku berusaha memaksimalkan semuanya mulai dari ibadah, silaturrahim sampe volunteering acara semacam ini. Alhamdulillah…

Semoga secuil cerita ini bisa jadi inspirasi, atau mungkin juga trigger bagi para wise-reader untuk meningkatkan kualitas ibadah di penghujung Ramadhan 1440 H. Selamat berpuasa dan mempersiapkan hari kemenangan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *