Road to Student 4.0 (part 3): Conclusions

Oke, berlanjut lagi di seri berikutnya dari Road to Student 4.0 ya. Anyway di seri Part 2, aku udah janji kan tentang penjelasan “apakah ada hubungannya antara ulasan beken Industry 4.0 yang lagi booming akhir-akhir ini dengan prinsip Student 4.0 yang tersemat di judul sejak seri Part 1 kemarin?”.

Jadi begini…

Kita awali dengan penjelasan singkat mengapa Industry 4.0 disebut 4.0, dan bagaimana dengan 1.0/2.0/3.0? Memangnya bedanya apa?

Nah, jadi istilah Industry 4.0 bisa jadi berasal dari sebuah memo yang muncul pertama kali dari dokumen milik pemerintah Jerman di 2013. Dalam memo tersebut menyebutkan tentang Industrie 4.0. Konsep tersebut menyuratkan sebuah strategi bisnis berbasis industri berbalut teknologi tinggi dan mutakhir. Dalam dokumen tersebut dipaparkan bahwa era Industrie 4.0 akan membawa sebuah perubahan di bidang industri manufaktur, yang pada awalnya memanfaatkan mayoritas human-based operator, menjadi fully-computerized, bahkan hampir tak membutuhkan campur tangan manusia di dalamnya. Angela Dorothea Merkel pun menyebutkan bahwa konsep Industrie 4.0 adalah cara untuk mempercepat penggabungan dunia maya (cyber) dengan dunia nyata industri, dalam pidatonya saat World Economic Forum di Davos pada tahun 2015.

Lalu, apa bedanya antara Industry 1.0, 2.0, dan 3.0 yang sebelumnya diterapkan dengan 4.0?

Inti perbedaannya ada pada basis pemantik perkembangannya, di mana 1.0 diawali dengan penemuan mesin uap dan menandai genderang revolusi Industri yang pertama di kisaran 1784an. Lalu 2.0 adalah saat di mana perang dunia menjadi pemantik industri baja dan alat berat menjadi semakin berkembang, apalagi dengan adanya listrik, menjadikan optimasi proses produksi massal menjadi poros baru dalam dunia industri di kisaran 1870an. Selanjutnya ada juga 3.0 yang menjadi dalang dari komputerisasi industri, dimulai pada sekitar seratus tahun pasca 2.0 diterapkan. Hingga pada akhirnya era Industry 4.0 menjadi sangat mungkin dirintis secara global. Dengan beberapa poros pergerakan berupa Internet of Things (IoT), Industrial Internet of Things (IIoT), Cloud based manufacturing dan smart manufacturing yang merupakan hasil penyederhanaan konsep empat prinsip: 1)Interoperability; 2)Information transparency; 3)Technical assistance; dan 4)Decentralized decisions.
Yang untuk menyempurnakannya lagi, ditopang oleh sembilan pilar penguat, yaitu Big Data and Analytics, Autonomous Robot, Simulation, System Integration: Horizontal and Vertical System Integration, The Industrial Internet of Things, Cyber security and Cyber Physical Systems (CPS), The Cloud, Additive Manufacturing, dan Augmented Reality. Yang kesemuanya silakan dicari masing-masing penjelasannya di manapun. Karena jika dijelaskan satu per satu akan membawa kita pergi “jauh lebih dalam, jauh lebih dalam,” kalau kata Romy Rafael.

*Penjelasan di atas diperoleh dari berbagai sumber yang tautannya bertengger di beberapa kata dan juga Conference Journal oleh Saurabh Vaidya, Prashant Ambad, dan Santosh Bhosle yang dipublikasikan tahun 2018, serta dapat ditemukan di tautan ini.

Sudah paham? Atau sudah pusing? Hehehe…
Sama kok, aku juga agak pusing, tapi tertantang untuk tahu lebih lanjut, utamanya penerapan konsep serupa di bidang ilmu bahan yang kugeluti.

Lalu apa sih hubungannya Industry 4.0 dengan konsep Student 4.0?

Sebenarnya tak jauh berbeda, bahkan konsepan Student (pola para pembelajar) ini mungkin sudah mengalami berbagai macam perubahan-perubahan, yang bisa jadi lebih dari 4 kali.
Tapi sederhananya saya ingin mengadopsi konsepan Industry 4.0 ini ke dalam proses memahami pola pembelajaran yang kita tekuni bersama. Sederhananya, menurut saya (ingat! ini opini saya, jadi kalau mau mendebat atau mau mendiskusikannya lebih lanjut monggo saja) Student 1.0 hanya berkutat pada sebuah konsep tentang mengenal dan menghapal yang sejatinya telah dialami manusia sejak jaman baheula. Di mana untuk selanjutnya demi menunjang Industry 1.0 (menciptakan alat dan mesin) pasca penemuan mesin uap dan perkembangan optimasi industri, konsep Student 2.0 pun ikut berkembang menjadi menemukan dan mengembangkan sesuatu. Dengan berbagai kesusahan dan kegelapan yang menyelimuti dunia ilmu pengetahuan di masa lalu, manusia mampu bertahan dengan upayanya memperbaiki kualitas kehidupan mereka melalui penemuan metode, teori, perhitungan, dan mengembangkannya menjadi lebih aplikatif. Sehingga muncul pola Industry 2.0 (memanfaatkan listrik untuk produksi massal), yang merupakan pengembangan ilmu pengetahuan dari hasil manifestasi Student 2.0, dan selanjutnya segera beralih menuju Student 3.0 dengan basis mengoptimalkan sesuatu dengan memanfaatkan komputerisasi dan digitalisasi. Karena pada dasarnya manusia memang tidak akan pernah puas, maka setelah mampu memproduksi sesuatu secara massal, mereka ingin membawa segala hal berbau fisik (memiliki dimensi besar) menjadi sesuatu yang lebih kecil dan mobile. Contoh analogi sederhananya adalah, selama proses penerapan Industry 3.0 (melakukan komputerisasi dan otomasi) ini manusia memetamorfosis penyimpanan lagu dari piringan hitam berkeping besar menjadi pita kaset, compact disc, flash drive, dan lalu cloud. Inilah yang menjadi tonggak awal menuju pergerakan masif manusia untuk semakin meninggalkan sekat antara manusia (user) dengan manusia (operator), manusia (operator) dengan alat, dan alat dengan alat lainnya. Di era Industry 4.0 (memindahkan pola pengaturan secara fisik menuju ke arah digital/cyber physical system) inilah sekat-sekat itu berusahan dihilangkan dengan pijakan utama bertajuk Internet of Things. Secara tersirat era ini menjadi ujung dari hasil usaha Student 4.0 yang memiliki tujuan untuk mempercepat dan menyederhanakan metode/teori/alat/dll demi mempermudah kinerja manusia di masa kini dan masa mendatang. Tentunya konsepan mempercepat dan menyederhanakan ini juga menggunakan prosedur dan tata cara yang baik dan benar dalam proses pengembangannya, hanya saja ada pemangkasan-pemangkasan proses yang dianggap tak terlalu esensial, sehingga pada akhirnya memunculkan ide-ide brilian yang bisa diterapkan pada gawai agar menjadi lebih mangkus dan sangkil.

Wooow, panjangnya…

Iya lah, itu udah lumayan singkat lho. Karena maksudku biar kita semua sekalian paham dengan apa yang ingin aku sampaikan dalam rentetan tulisan di seri Road to Student 4.0 kali ini. Karena menuliskan ide yang singkat itu butuh perjuangan, jadi tolong dibiasakan untuk menghargai pendapat orang lain ya! Tak sepakat boleh, tapi mari kita lakukan dengan jalan diskusi, jangan cuma nyinyir tanpa usaha yang berarti.

Nah, lalu apa hubungan ulasan ini dengan part sebelumnya?

Oke, masih ingat dengan pernyataanku di seri Part 2 tentang perenungan dari kisah-kisah Bunga, Tami, dan Arai? Sebenarnya, pada dasarnya sih pola yang mereka gunakan untuk mendapatkan gelar akademik sama saja. Ingin mengadopsi pembelajaran di tahapan Student 4.0, hanya saja mungkin agak melenceng dalam penerapannya. Sudah paham kan bahwa di Student 4.0 seharusnya memang segalanya serba cepat dan simple? Pada dasarnya sesuai lah dengan tujuannya untuk mempercepat dan menyederhanakan. Tapi sepertinya baik Bunga, Tami, dan Arai lupa bahwa dalam mempercepat proses lulus bukan berarti melaksanakan pembelajaran secara instan. Dan lagi, menyederhanakan proses pembelajaran juga bukan berarti melakukan bypass melalui jalur-jalur karbitan. Karena dua hal yang dipisahkan dengan kata hubung bukan berarti di atas, akan memiliki hasil yang sangat berbeda ketika diterapkan.

Menurutku, beberapa hal yang bisa menjadi penanda pribadi keberhasilan penerapan Student 4.0 yang kita lakukan adalah sebagai berikut:
1) Bertambahnya link yang nantinya akan memperkaya networking (jaringan) kita untuk melangkah di masa depan, di manapun bidang karya kita;
2) Tumbuhnya kepercayaan orang lain pada apa yang kita lakukan dan hasilkan, sehingga ketika kita kembalikan pada poin pertama, kita telah berhasil menambahkan jaringan pertemanan potensial di dalam daftar riwayat hidup kita. Contohnya saja Dosen/Professor, kalau di masa bachelor/S1 dan juga master degree kita memiliki track record baik, atau bahkan di atas rata-rata, bukan tak mungkin rekomendasi beliau-beliau akan sangat menunjang karir kita di masa depan, di manapun bidang karya kita;
3) Tidak terbebani dosa masa lalu, dan tidak dicap menjadi toxic bagi orang-orang di sekitar kita. Ini sih mungkin side effect ya, tapi sebenarnya di poin ketiga ini masih berkaitan erat dengan poin 1 dan 2;
4) Mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi khalayak, apalagi ketika dimanfaatkan sebagai ilmu terapan yang berguna untuk mempermudah kehidupan generasi mendatang. Dengan analogi praktis, hal itu bisa terjadi jika hasil penelitian kita ini valid, obyektif, dan tak mengandung unsur-unsur ‘karbit’ dan ‘pemanis buatan’.

Jadi jelas dong, aktivitas-aktivitas berupa merengek demi mempercepat sesuatu yang belum saatnya dengan alasan-alasan tak logis dan berbau tak nyata, memperalat partner dan menjadikannya sebagai sapi perah demi menguntungkan diri sendiri, melakukan pemolesan pada sebuah hasil kerja yang sebenarnya masih belum sempurna, serta mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tak dilakukan, itu sepenuhnya tak bisa dibenarkan hanya demi mendapatkan sebuah gelar.

Epilog
Oke, jadi mungkin dicukupkan saja untuk diskusinya kali ini. Semoga seri Road to Student 4.0 kali ini, yang dimulai dengan cerita pemanasan di Part 1, beberapa kisah nyata yang disensor di Part 2 yang sekaligus menjadi klimaks seri kali ini, serta penjelasan panjang plus kesimpulan yang tersemat di tulisan ini, bisa menjadi pembelajaran tersendiri khususnya bagi Para Pencari Gelar Akademik (PPGA) di manapun berada, dan bagi semua pembaca laman ini pada umumnya. Terima kasih sudah mau  mampir dan mengikuti seri kali ini.

Selamat mempersiapkan diri untuk bermetamorfosis menuju era Student 4.0!!!

One Reply to “Road to Student 4.0 (part 3): Conclusions”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *