Road to Student 4.0 (part 2): Stories

Eh eh, sampai mana kemarin ngobrolnya?
Btw, sebelum baca yang ini, ada baiknya balik dulu deh ke sini. Biar nggak langsung panas, karena mau nggak mau, bisa nggak bisa, untuk menuju ke cerita klimaks, kan harus ada pemanasannya.

Nah, jadi pastikan otaknya udah anget, siap diajak mikir dinamis, tanpa bawa-bawa perasaan dan penyakit-penyakit hati lainnya.

Biar nggak terlalu tegang, gambar awalnya beberapa barang yang di momen wisuda lalu diberikan oleh keluarga-keluarga terbaik selama dua tahun ke belakang, ya ūüôā

DISCLAIMER: tulisan kali ini tidak bertujuan untuk menyudutkan siapapun dan menjatuhkan institusi apapun. Demi kemaslahatan umat dan optimalnya pembelajaran, maka semua nama yang ada di dalam tulisan ini disamarkan, meski alur ceritanya cukup valid dengan hasil observasi dan pengamatan mendetail dari berbagai pihak yang bersinggungan langsung dengan obyek. Silakan telaah dan simpulkan sendiri semampu pembaca, dan jadikan sebagai pelajaran berharga untuk dihindari.

Oke, yuk kita mulai!
Jadi tulisan kali ini akan kembali mengulas tentang para PPGA, terutama yang memiliki kesempatan menuntut ilmu di tanah orang, di luar Indonesia. Harapannya bisa menjadi petuah-petuah untuk mereka, dan tentunya sebagai pengingat bagi diri sendiri. Dan bagi yang udah pernah baca tulisan di sini (click for detail) sebelumnya, pasti paham apa yang aku maksud. Tapi bedanya, kali ini aku akan sedikit mengulas tentang seberapa keblingernya para PPGA yang telah saking menghayati konsep Student 4.0 tanpa menyelami lebih dalam makna dari istilah itu (sengaja aku mengadopsi angka 4.0 yang terinspirasi dari era Industri kekinian, yang penjelasannya akan lebih gamblang di part 3 nanti).

STORY A: Sebut Saja Bunga
Namaku Dea, aku adalah seorang pengajar di salah satu universitas di Indonesia, sekaligus pengemban tugas belajar di salah satu perguruan tinggi di luar Indonesia. Dan cerita ini terlahir dari sebuah obrolan panjangku dengan rekan sejawat, sama-sama dosen, hanya saja kami mengajar di jurusan yang berbeda.
Alkisah, ada seorang PPGA yang tengah berada di fase semester akhirnya pada jenjang S1 (seperti biasanya, panggil saja Bunga). Nah, Bunga ini tergolong PPGA yang biasa-biasa saja, tak terlalu menonjol, meski “mungkin” bisa dibilang¬†track record akademiknya standar dan masih bisa ditoleransi jika memiliki kekurangan di kelakuan sehari-hari. Pada fase ini, berulang kali dia mendapatkan coretan-coretan pada lembaran skripsi yang harus dibenahi. Biasanya sih lebih keren diistilahkan sebagai revisi, ketika dia selesai bimbingan dengan dosennya (panggil saja pak Jarno).

“Haduh mbak, heran aku sama anak ini…” keluh pak Jarno padaku suatu hari.
“Lha kenapa mas?” tanyaku.
“Masa’ tiap ketemu aku ngeluhnya sama. Saya ingin segera lulus! Katanya dia ingin segera menikah, wis kesel kuliah jarene.”
“Kok bisa lho? Terus sampean gimanakan anaknya?”
“Sudah berulang kali, hampir satu semester gitu terus. Aku pusing makanya, males mbimbing mahasiswa kaya gini,” tukasnya pasrah.

Singkat cerita, mahasiswi ini akhirnya lulus dengan segera, dengan nilai tugas akhir yang entah bagaimana nominalnya, yang jelas asal lulus saja lah, daripada merepotkan, kata pak Jarno. Dengan testimoni behind the scene dosen pembimbingnya yang demikian adanya, apa kalian pikir itu membanggakan? Menurutku sama sekali tidak, karena pada dasarnya kelulusannya diperoleh melalui sebuah prosesi keterpaksaan.

– Story A End –

Jadi bagaimana kesimpulannya?

Tunggu dulu, ini baru kisah pertama. Penjelasannya ada di bagian terpisah nantinya. Sabar ya!

STORY B: I’m the Hyper-accelerator-bolic
Namaku Tami, secara garis besar ceritaku bisa dibilang yang lebih kece dan lebih berpotensi “dikemas secara hiperbolik” daripada kisah di atas. Bagaimana tidak, aku adalah seorang lulusan salah satu kampus negeri bonafide di Indonesia¬†dengan daya tempuh masa studi hanya 3.5 tahun. Nilaiku tinggi juga, karena pada dasarnya aku ambisius and craving for the result, bagaimanapun prosesnya. Belum lagi aku juga punya kesempatan masuk ke sebuah perguruan tinggi negeri di sebuah negara yang akhir-akhir ini menjadi primadona di mata mahasiswa kampus S1-ku. Studi¬†master-ku tak lama, diselingi dengan jalan-jalan dan hobi fotografi ala-ala, aku berhasil menikmati masa kuliahku di sini dengan nyaris sempurna, kelihatannya. Hingga pada akhirnya aku mampu menyelesaikannya dalam hitungan kurang dari dua tahun, enam belas bulan apa ya? Aku agak lupa. Wow sekali bukan? Membanggakan bukan? Bangga dong? Tapi, diam-diam aku ingin menceritakan kisah¬†behind the scene¬†dari cerita hiperbolik kesuksesanku nih. Kalian mau dengar nggak?
Alkisah, aku adalah PPGA yang masuk lebih lambat satu semester dari angkatan si pemilik laman ini. Secara umum aku anaknya baik kok, lumayan piawai mencari teman, intinya kurang lebih aku supel dan mudah bergaul. Sampai tiba saat di mana aku menyelam pada fase semester ganjil yang kedua. Di fase ini aku juga sempat menggalau di sosial media karena mengalami putus cinta tiba-tiba. Hingga saatnya tiba, aku bertemu dengan seorang pria yang tiba-tiba hadir dan tanpa pikir panjang kuajak berkomitmen sebagai pengganti mantanku. Ah iya, untuk kisah selanjutnya mungkin akan divisualisasikan oleh percakapan orang-orang dekatku yang sepertinya risih juga mendengar curhatan-curhatanku hampir setiap waktu, entah tentang studi, atau juga tentang jodoh yang serba tak pasti.

A: “Jadi ya gitu mbak, masa’ tiap malem cerita ke Iyu kalau doi pengen cepet lulus aja, pengen cepet nikah katanya.”
B: “Kamu tahu dari siapa? Awas Ghibah!”
A: “Lah dia ceritanya keras banget pas sama Iyu. Dan beberapa kali aku juga ada di dekat mereka. Itu nggak sekali dua kali, tapi berkali-kali. Gimana aku nggak tahu detail?”
B: “Waduh, bisa gitu ya?”
A: “Iya mbak, katanya dia abis putus, terus beberapa waktu kemudian ketemu lagi sama satu cowok, langsung ditantangin diajak nikah.”
B: “Aku masih nggak paham di mana korelasinya dia ngajakin nikah cepat sama cowok yang barusan kenal, dengan dia yang pengen lulus cepat.”
A: “Entahlah mbak, terus kata temennya yang diajak bicara, masa’ hampir tiap hari dia merengek ke professornya terus, pengen lulus semester ini. Biar bisa segera pulang, terus nikah! Gitu terus! Ya misal aku jadi professornya jelas risih lah. Dan kira-kira kalau mbak digituin sama mahasiswa gimana?”
B: “Ya kalau aku sih lulusin aja, daripada jadi penyakit. Nah, terus professornya gimana?”¬†korek B, yang di awal tadi ngingetin¬†awareness tentang Ghibah.
A: “Ya mungkin pikiran professornya gitu juga mbak. Aku nggak mau spekulasi ah. Pokoknya akhir-akhir ini tiba-tiba professornya udah males gitu ngeladenin doi. Terus diizinin aja dia sidang.”
B: “Wew, jadi semacam udah nyerah membimbing gitu dong professornya? Gawat juga tuh. Nanti kalau ada orang Indonesia masuk laboratoriumnya lagi pasti jadi¬†bad-mark.”
A: “Nggak tahu lah mbak, heran aja. Bisa gitu ya?”

Dan begitulah akhirnya, cerita¬†behind the scene-ku ini¬†tersimpan rapi di balik publikasi dan posting-posting foto instagramku yang begitu hiperboliknya. Kalian mungkin sempat baca juga kan? Aku banjir pujian lho, hihihi… Caraku membanggakan betapa singkatnya durasi masa studi kepada khalayak warganet sekalian cukup piawai bukan? Tapi setelah tahu¬†behind the scene ceritaku ini apa kalian masih¬†yakin itu membanggakan?¬†Ehem, meski tak lagi yakin, tolong disimpan sendiri saja ya. Meski lulusku ini seolah menjadi sebuah proses karbitan yang kurang benar, tolong dijadikan pembelajaran saja ya! Sampai jumpa di ranah karya lainnya! Eh, ngomong-ngomong aku juga udah jadi pengajar lho sekarang, mohon doanya aku bisa merubah sikap-sikapku yang kurang baik ya…

– Story B End –

Jadi bagaimana kesimpulannya?

Tunggu dulu, ini baru kisah kedua. Kan kalau kata peneliti/observer/atau apapun itu, biasanya repetisi studi kasus itu baru valid ketika lebih dari dua. Agar ada pembanding, dan tidak terkesan memaksakan kesimpulan. Nah sekali lagi, penjelasan dan kesimpulannya ada di bagian terpisah nantinya. Sabar ya!

STORY C: I’m Toxic and I Know It
Apa kalian masih ingat tentang kisahku di tulisan si pemilik laman ini di blog sebelumnya? Kalau belum baca, coba deh klik di sini. Hahaha, tulisan itu sepertinya menjadi ungkapan dan wujud kekesalannya padaku. Setelah beberapa kali aku diperingatkan, dan masih bebal. Ah, tapi toh dia juga nggak sempurna, ngapain sih ngingetin aku?
Oh iya, perkenalkan lagi ya! Namaku Arai, setelah kisah di tautan sebelumnya seolah selesai, kini kisahku masih terus berlanjut lho. Kalian ingin membacanya?
Tahun ini, tepatnya di akhir bulan Juli 2018 adalah penghujung masa studi master-ku. Meski seharusnya sih belum menjadi ujung, tapi karena kemiripan dengan dua cerita sebelumnya, maka sepertinya keterpaksaan itu bisa menjadi opsi akhir dari masa studiku. Atau setidaknya adanya perubahan label dari pengerjaan thesis menjadi tahapan revisi pasca sidang. Anyway, menurut mantan dosen waliku yang saat ini menjadi rekan satu laboratoriumku, aku ini anaknya kurang empati. Jadi, ya mohon dimaklumi saja ya, jika di dalam ceritaku kali ini memang begitu adanya diriku.
Aku pernah merusakkan alat laboratorium tanpa meminta maaf, aku juga pernah menghancurkan bahan riset rekan¬†postdoc di laboratorium yang seharusnya segera dikirim ke MIT untuk diuji, aku juga tak pernah hadir ke laboratorium sesuai jadwal 10.00-18.00 (yang ketika aku ditanya orang lain di luar laboratorium, aku hanya bilang ke mereka bahwa “aku cuma tak hadir tepat waktu kok, masa’ gitu aja professor marah?”, psst… jangan bilang-bilang ya!), bahkan aku hanya hadir di laboratorium seminggu sekali atau dua kali saja ketika melakukan eksperimen, dan setelah professor tahu itu semua, bisa dibilang akulah yang menyebabkan diberlakukannya absen per datang dan pulang di ruang kerja, padahal sebelumnya tak pernah ada. Keren kan?
Oh iya, dan dalam proses pengerjaan thesisku ini aku meminta bantuan kepada salah satu junior di laboratorium yang masa studinya satu tahun lebih lambat dariku, namanya Kiar. Kiar ini saking baiknya, bahkan bisa kuperalat untuk mengerjakan riset dan thesisku ketika aku sedang pergi sekeluarga (away from lab, atau bisa dibilang liburan). Benar-benar baik dan mudah diperalat bukan? Tapi entah mengapa, di akhir ini Kiar mulai menjauhiku. Karena beberapa waktu lalu, saat aku tidak diizinkan sidang thesis oleh professor akibat kurangnya data risetku, Kiar turut dipanggil dan dimarahi karena telah membantu risetku. Dan di dalam ruangan itu, aku sama sekali tak membelanya. Karena kupikir, toh dia mau kok kuperalat, eh maksudnya kumintai bantuan. Sampai pada akhirnya Kiar sepertinya ngambek dan mengatakan yang sejujurnya pada professor, research assistant, dan bahkan kawan-kawan satu laboratorium bahwa dia tak hanya membantuku, melainkan mencarikan hampir 60% pembahasan thesis yang sedang kukerjakan. Untung saja, dia sepertinya belum menceritakan tentang bagaimana aku merekayasa data hasil risetku agar nampak logis, meski sebenarnya gagal. Ups, tuh kan aku keceplosan.
Tapi, padahal kan dia sendiri yang mau membantuku, kenapa dia juga yang marah pada akhirnya? Benar-benar tak habis pikir.
Nah, di fase revisi ini aku dituntut professor untuk membenahi dataku yang katanya masih tak sesuai standar, belum lagi aku juga dibebani untuk segera menyelesaikan¬†manuscript untuk jurnal. Pikirku, “data rekayasa seperti ini bagaimana aku nanti menginterpretasikan menjadi¬†manuscript jurnal ya?”
Hingga akhirnya aku kembali ingin memperalat Kiar untuk membantu menuliskan¬†manuscript-ku, dengan imbalan namanya masuk juga ke jurnal. Baru saja aku bilang padanya dengan kata-kata pamungkas “professor yang meminta”, eh beberapa hari kemudian dia sudah melakukan¬†crosscheck pada professor. Jadi ketahuan kan akal-akalanku. Tapi aku tak berhenti di sana, berbagai cara pun kulakukan untuk mengakali apa yang harus kuhadapi. Dan¬†voila! Tepat di pekan kedua bulan Agustus, akhirnya diam-diam Professor meminta Kiar untuk menyelesaikan kerjaan manuscript jurnalku. Yang bisa dibilang sih, sebenarnya bukan menyelesaikan ya, tapi memulai dari awal. Karena beberapa kali Professor bilang pada Kiar bahwa dataku ini sama sekali tak bisa digunakan untuk menembus jurnal¬†bonafide. Yah, tapi toh yang penting aku bisa pulang di menjelang akhir bulan Agustus nanti. Dan tanggung jawabku sudah beralih ke manusia yang paling mudah¬†kuperalat.¬†Anyway, terima kasih Kiar…
Jadi selanjutnya, mohon doa dari semuanya ya! Agar aku bisa segera sembuh dari penyakit berlabel “manusia¬†toxic”semacam ini. Dan lagi, tolong doakan aku agar juga bisa segera bermanfaat untuk Indonesia, tidak lagi mempermalukan negaraku, dan juga bisa belajar lebih baik lagi pasca mengemban gelar master. Terakhir, doakan aku agar bisa mengubah sikap-sikap bejat, eh maksudnya kurang baik yang kulakukan selama ini, ya…

– Story C End –

Wow, kok makin ke bawah ceritanya makin parah gini ya? Aku jadi takut kan membahasnya satu per satu.
Jadi gimana nih para pembaca? Masih mau lanjut ke penjelasan, perenungan, dan bahkan bagian kesimpulannya nggak, nih? Karena jika dilanjutkan cerita-cerita curhatan dari mbak Dea, Tami, dan juga Arai di atas, kayanya pantat, hati, dan otak kita bakal panas sendiri deh. Eh, atau justru mereka yang sekarang ini mulai pusing gara-gara curhatnya sefrontal itu?

Ah sudahlah, intinya telaah dulu aja ulasan kali ini, pikirkan dan renungkan sendiri apa yang bisa diambil sebagai pelajaran, sementara menunggu tulisan cooling down di judul selanjutnya. See ya!

 

>> Bersambung

One Reply to “Road to Student 4.0 (part 2): Stories”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *