Potensi Portal Daring Terintegrasi untuk Instrumen Alat Pengujian di Indonesia: Adopsi dari MOST – The Instrument Information System

Heyho, wise reader!
Kayanya nggak perlu terlalu berbasa-basi lagi sih ya untuk prolognya, Kali ini aku ingin membahas tentang sebuah ide brilian dari pemerintah Taiwan, khususnya Ministry of Science and Technology (MOST). Ide apakah itu? Yuk, kita ulas bersama!

Sebenarnya banyak sih ide-ide sistem yang brilian dari MOST ini tapi, untuk tulisan kali ini aku akan berfokus pada sebuah gagasan yang sejujurnya ingin kuadopsi ke dalam sebuah aplikasi yang dulu sempat kudiskusikan bersama beberapa kawan di Computer Science and Information Engineering Department, National Central University di tahun 2018. Sampai pada akhirnya berlanjut pada diskusi yang sedikit lebih jauh tentang strategi untuk mewujudkan ide tersebut bersama rekan satu laboratoriumku, mahasiswa Master yang juga alumni Universitas Negeri Sebelas Maret. Yah, meski belum sempat tereksekusi secara konkret karena ada berbagai hal dan kendala yang masih menjadi aral bagi kami, setidaknya ada nafas baru yang menurutku bisa menjadi pemantik semangat bersama terkait ide ini, yang tentunya selaras dengan visi yang sempat kudiskusikan tetapi belum sempat tereksekusi secara teknis bersama rekan-rekanku di 2018. Nafas baru tersebut berupa sebuah artikel opini yang berjudul Laboratorium Riset di Universitas, ditulis oleh Syamsul Rizal, seorang Professor di Universitas Syiah Kuala, yang rilis di kanal https://kompas.id/ pada 1 Oktober 2019 lalu.

Sebelum kuperkenalkan apa idenya, akan lebih baik jika aku juga membagikan sedikit informasi terkait MOST Taiwan. MOST (Chinese: 科技部/kējìbù) adalah sebuah Kementerian di bawah otoritas Taiwan, Republic of China. Dalam hal ini, mayoritas pekerjaannya adalah mengendalikan dan mendistribusikan, serta memanajemen riset akademik di Taiwan, baik berupa pengembangan riset ilmiah yang dilakukan oleh kampus-kampus maupun teknologi-teknologi advance yang dikembangkan oleh berbagai Science Park di Taiwan. Termasuk di dalamnya urusan pendanaan, hingga pengaturan porsi dan pembagian kerja dalam kolaborasi teknologi. Menariknya, MOST ini juga merupakan satu dari 28 anggota dari The Belmont Forum. Apakah itu? Langsung klik/tap saja ke tautannya.

Ide yang dari awal paragraf di atas, bahkan semenjak di judul telah aku sematkan adalah keberadaan sebuah integrated system untuk data, pemetaan lokasi, standar insentif/fee yang harus dikeluarkan, serta booking dari instrumen alat-alat pengujian, yang berlaku secara nasional di Taiwan. Sebuah sistem cerdas yang telah diberlakukan oleh MOST Taiwan dalam menata dan memanajemen upaya pengembangan riset dan teknologi yang menjadi tugas utama mereka. Bagaimana sih penerapan konkret dari sistemnya?

Nah, salah satu sistem yang membuatku kagum dan tertarik untuk bisa diterapkan di Indonesia adalah yang ada pada website https://vir.most.gov.tw/ yang tampilan depannya sebagai berikut:

Halaman depan website MOST – The Instrument Information System

Di dalam laman portal MOST – The Instrument Information System ini, kita bisa mendaftarkan diri, dengan mengisi berbagai informasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan akun. Tak peduli kita berasal dari negara mana, asal nama dan identitas kita tercatat sebagai mahasiswa ataupun pelaku riset di salah satu institusi di Taiwan, maka akan dengan mudah mendapatkan akses akun. Seperti contohnya di laboratoriumku di Department of Materials Science and Engineering, National Chiao Tung University, yaitu Energy Storage and Electrochemistry di bawah asuhan Prof. Jeng-Kuei Chang. Di dalam laboratorium kami hanya ada beberapa mahasiswa yang secara resmi mendapatkan akses untuk portal MOST – The Instrument Information System ini, yaitu Research Assistant dan mayoritas mahasiswa Ph.D. (juga ada beberapa mahasiswa Master yang memiliki tugas khusus). Nah, karena aku adalah salah satu mahasiswa Ph.D. yang diberi akses, maka akan kucoba jelaskan secara singkat bagaimana sistem yang dimiliki oleh portal ini.

Pertama kali yang harus dilakukan untuk mengakses portal ini (tentunya setelah terdaftar) adalah masuk/login melalui menu “Staff Area” di pojok kanan atas. Selanjutnya akan muncul tampilan sebagai berikut:

Tampilan untuk login ke dalam MOST – The Instrument Information System

Setelah mengisi username dan password, serta berhasil login, maka nantinya akan muncul tampilan sebagai berikut:

Dalam menu ini kita disuguhkan dengan sebuah tampilan sederhana tentang menu-menu yang dapat kita pilih sesuai kebutuhan.

Pada pilihan menu-menu tersebut mari kita perhatikan kotak berwarna hijau tosca di sebelah kiri bawah. Ada pilihan menu “Join Project” disertai dengan durasi berakhirnya proyek tersebut. Di sinilah menariknya, kita hanya bisa melakukan booking alat di kampus/institusi manapun, di kota manapun di seantero Taiwan, yang keseluruhan alatnya telah terdata oleh database MOST jika telah terdaftar sebagai salah satu anggota laboratorium yang tertaut dengan funding pembiayaan proyek riset tertentu. Selebihnya, mari kita coba masuk ke menu pilihan pemesanan instrumennya.

Pilihan alat-alat advance yang bisa dipilih untuk dibooking di kampus/institusi manapun, di kota manapun di Taiwan.

Oke, selanjutnya mari kita masuk ke laman area pemesanannya!

Ada beberapa pilihan menu yang wajib diisi, salah satunya adalah “Project for Reserve”

Di sinilah letak sisi menariknya, dari salah satu pilihan alat yang kupilih, kita harus mengisi informasi dan data diri pemesan, dan yang terpenting adalah proyek mana yang digunakan untuk mendanai pengujian yang kita lakukan. Selain itu ada juga terdapat pilihan-pilihan minor lain seperti waktu booking, tipe pengoperasian (dioperasikan sendiri atau dengan jasa operator), jumlah sampel, serta pilihan-pilihan lainnya.

Cukup mudah dan memudahkan sekali bukan?
Salah satu mimpiku adalah, “kapan Indonesia bisa memiliki sistem terintegrasi semacam ini?” yang bisa jadi jawabannya adalah dengan adanya penunjukan bapak Nadiem A. Makarim sebagai menteri termuda (mantan CEO start up tersohor GoJek) yang membidangi tak hanya Pendidikan dan Kebudayaan yang sebelumnya dikonotasikan dengan hanya pendidikan dasar dan non formal, tetapi kali ini juga membawahi bidang Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Tentunya dengan kolaborasi bersama Kementerian dan lembaga-lembaga lainnya yang saling berkaitan.

Beberapa catatan terkait persiapan apa yang dibutuhkan oleh Indonesia jika ingin dan berencana menerapkan sistem semacam ini adalah:

  1. Adanya pendataan yang lengkap dan valid terkait jenis-jenis dan jumlah dari instrumen alat pengujian yang dimiliki oleh berbagai kampus dan institusi riset dan teknologi di Indonesia, tak hanya Jawa, tapi seluruh Indonesia.
  2. Setelah data-data terkumpul, maka tugas selanjutnya adalah pembuatan dan penataan portal terintegrasi semacam MOST – The Instrument Information System. Aku rasa dengan adanya Kemkominfo, bekerjasama dengan PANDI, maka tak sulit untuk menciptakan integrated system platform semacam itu. Apalagi tenaga-tenaga IT di tanah air saat ini sangat amat banyak dan menjamur.
  3. Pasca fundamental data dan platform sudah terbentuk, maka tugas selanjutnya adalah mengintegrasikan proyek-proyek pendanaan riset dan teknologi yang telah dimiliki oleh masing-masing kampus/institusi yang bergerak di bidang tersebut untuk bisa dikolaborasikan sebagai modal utama untuk pembiayaan pengujian. Dengan begitu, akan tercipta suasana sehat dari upaya riset dan teknologi di Indonesia. Pergeseran dari yang awalnya persaingan riset dan teknologi yang bersifat “kampus dan institusi sentris secara individual” menjadi “kolaborasi antar peneliti di lintas kampus/lembaga/institusi” sangat mungkin terjadi.
  4. Setelah poin 1-3 settle, maka barulah kita melakukan penyempurnaan sistem, serta manajemen dari platform yang telah kita bangun. Untuk selanjutnya di-scale up ke arah sertifikasi manajemen mutu, serta menunjukkan eksistensi lewat bergabung bersama perkumpulan internasional semacam The Belmont Forum.
  5. Tentunya poin-poin di atas harus ditunjang dengan penyerahan wewenang pembuatan platform ini kepada salah satu lembaga yang telah dimiliki oleh Indonesia, entah itu B4T, BPPT, atau mungkin juga LIPI. Dengan koordinasi dan supervisi ketat dari Kementerian-kementerian yang concern di bidang riset dan teknologi.

Aku yakin, jika platform semacam portal MOST – The Instrument Information System bisa diadopsi di Indonesia, maka geliat riset dan teknologi mutakhir (yang jelas sekali membutuhkan peran serta kolaborasi banyak pihak untuk saling merelakan pemakaian bersama instrumen alat-alat pengujian mereka secara berkeadilan dan merata) akan bisa semakin berkembang. Dan cita-cita bersama untuk Indonesia Maju akan bisa segera terwujud, tak hanya di bidang sosial, politik, dan ekonomi, seperti yang telah berkembang pesat di tanah air, tetapi juga Indonesia yang berdikari teknologi, sains, dan engineering di berbagai bidang dapat tersemat dalam kurun waktu yang tak akan lama.

#KotakAjaib